Jumat, 13 Maret 2015

Shutting Down

shut down

Berhari-hari menyusun rencana. dini hari bangun, pagi buta, puncak semangat tertinggi. jam 7 teng mata menunjukkan tanda-tanda mau shutdown. bukan sekedar log off atau sleep tapi beneran shutting down. benang kusut yang semakin ditarik semakin kusut ditambah penerangan yang tak mumpuni. lampu hampir kehabisan minyak, tenaga yang membara rencana yang matang ide yang terus mengalir walaupun tak jelas konsep dan sitematisnya tapi seolah menguap tanpa jejak.

seperti orang yag kita jumpai di antrian bank, menunggu antri tiket bis atau teman seperjalanan lintas kota. orang-orang tanpa wajah, cuma akrab sesaat, intim sesaat berbagi ide dan cerita-cerita umum dan ketika teller memanggil nomor urut mu, ketika pelayan loket sudah di depan mata , ketika sudah sampai di lokasi tujuan, hanya menoleh dengan senyum karib sambil berharap suatu saat bertemu kembali da bertambahnya teman.


dua puluh langkah wajahnya semakin memudar memudar sampai blur sama sekali. syukur-syukur berjumpa lagi, syukur-syukur tak bermemori pendek sepertiku. lupa pernah seperjalanan.


dari mulai mengumpulkan  semangat, mengutip semangat sampai terseok seok mengais semangat hasil nihil. gaya gravitasi lebih menguasai. punggung seolah menempel erat di ubin. tak ada daya buat bangkit berdiri


lewat tengah hari perut lapar. minta diiisi, selepas diisi mata merengek minta ditidurkan. selepas istirahat mata memaksa buat melihat hiburan. selepas sore kaki menapak ingin dibawa melihat angin senja berganti malam.

malam tiba perut merengek lagi minta diisi begitu seterusnya semua minta diperhatikan

tangan dan otak yang sudah siap sedia buat digas pol perlahan sadar perannya lama-lama shut down.menunggu dengan sabar kebutuhan mata, kebutuhan perut , kebutuhan mulut dan lidah dan kebutuhan publik lainnya.


tangan dan otak tidak minta didahulukan. tak minta jalur khusus biar kepentingannya didahulukan segera dengan alasan ada memori yang mengajak meeting tiba-tiba sehingga harus "istimewa" tidak mengikuti sistem tunggu-menunggu.


malam semakin larut bagian lain masih merengek. 

kesabaran otak semakin menipis. tangan sudah mulai mual kelamaan menunggu, fokus mata pun sudah kebingungan menidurkan mata kesenangan buat berhenti melihat gadget berhentilah mata kesenangan. otak, tangan dan ibumu ini, fokus mata, sudah berencana dari dini hari buat menjalani hari ini tapi kau tak kunjung shut down juga.

hari sudah berganti rencana tinggal rencana, di pojok baju "niat" perlahan menguning tapi tetap rapi di genggaman tangan karena otak sudah keburu ngambek shut down duluan dan tangan masih melongo seperti biasa. 

dini hari kembali. rencana tetap di re-schedule tanpa kepastian kapan naik cetak di otak. keburu pagi lagi. '


shut down. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar